1

A Breath of Believing the Good

A week ago, in early morning, I was (re)reading “The Alchemist” while I was queueing without my confiscated gadgets, then to find a bit of solitude and peace while enjoying the book. It raised a reflection. In the past 10 years, through multiple struggles with illness, tears, pain, abuse, terrorized by jealousy, lied to and many heartbreaks, but at the same time I realize my immense blessings, simple happiness, joy of friendship, laughter of small jokes, family who “challenge” me, chances to travel places and one great love. All with everyday breath of BELIEVING the Good, believing in the highest intervention of being true, believing that ignored blessings become a curse. I was beaten down, disappointed, was tired and there were times I almost gave up. But I held up my self, and continue to hold it up as high as I can. Believing the good, trusting that when you want something the universe conspires in helping you to achieve it. I made a simple one breath of wishes and another simple thought of thankfulness.

And the in the evening, one of the wishes came to life. Above all the Madness attentions of going virals. It just made me realize more more of my other blessings down the simplest one of being able to breath a fresh air, being loved so good by my man, eating yummy food, having true friends, making new travel plans and many more.
“The secret of happiness is to see all the marvels of the world, and never to forget the drops of oil on the spoon”. – Paulo Coelho

Advertisements
Uncategorized
7

Sleeping Problem in China

Hari ini aku baca di yahoo.com ttg earthquake di china :

After the quake, we couldn’t sleep for five days. We were really, really afraid,” said Chen Shigui, a weathered 55-year-old farmer who climbed for two days with his wife and injured father to reach the camp from their mountain village.
(“Setelah gempa, kami tidak bisa tidur selama 5 hari. Kami sangat, sangat ketakutan”, kata Chen Shigui, seorang petani berumur 55 thn yang mendaki selama 2 hari bersama istri dan ayanya yang terluka untuk mencapai kemp penampungan dari desa mereka di daerah pegunungan)

Tentu saja mereka ga bisa tidur selama 5 hari karena trauma akan gempa. Hal ini bikin aku ingat waktu pengobatanku di china, aku ga bisa tidur selama 1 bulan. Bukan karena trauma gempa sih, tapi karena kesakitan yang sangat (I would prefer to sleep and ease the pain!) dan hm… kasurnya yang cuma setebal 2,5 cm (Jaman dulu org2 china ga pake kasur). Selebihnya mungkin karena obat? atau entahlah…. yang jelas ketika aku pulang dari china, aku dengan suksesnya turun hampir 8 kilo dan semua org bilang kalau aku kurus sekali…..(akibat surgery dan ga tidur itu tadi).

Jadi apa yang kulakukan selama 1 bulan tanpa tidur?
1. Berdoa sambil dengerin i-pod.
(Kebetulan aku sempat masukin lagu rohani “Bapa Yang Kekal”, dan lagu ini selalu “sukses” mengucurkan airmata dan perasaan bersalah atas dosaku hihihihihi)
2. Main GameBoy.
(Iyah, bener. GameBoy dgn layar kecil dan gambar yang masih pixel-art. Dengan kaset 200 games, terpuaskanlah nostalgia jaman dulu waktu maen nintendo. hehhehehe….. tapi, hari ke-20, ternyata mulai terasa eneg juga dan aku jadi paranoid setiap memejamkan mata dapat meliah super mario meloncat2 di kegelapan, plus suaranya…).
3. Melamun
(walaupun ga baik, tapi aku banyak menyusun mimpi dan rencana2 aneh untuk masa depan. Termasuk juga menyesali beberapa hal di masa lalu).
4. Nonton David Letterman di TV berbahasa mandarin
(Aku ga gitu ngerti, 70% ga ngerti! ya tapi gimana donk… satu2nya acaranya berbahasa inggris yaitu di malam dan subuh hari)
5. Asking for more pain killer and sleeping pills.
(Aku ga tau deh kenapa, pain killers dan sleeping pills yg dikasih sama dokter ga berfungsi dgn baik. hm, atau kurang banyak? yang jelas, hampir tiap jam aku disuntuk sleeping injection tapi ga mempan he he he…. sampai dokternya menyerah dan bilang no more ya karena berbahaya, cobalah untuk tidur)
6. Iri mendengar dengkuran Bunda
(Yup! Mamaku tidur dengan suksesnya….)
7. Mind Games
(Berusaha berpikir sakitku tidaklah begitu sakit…..)

Herannya, sleeping pills itu sangat berguna lho waktu aku pulang ke Indo. Dengan obat yg harus diminum 3 kali sehari, kebanyakan aku tertidur sekitar 2 jam x 3 per hari! Aku jadi susah untuk membuka mata ke kuliah atau kerja.

What’s up with that, huh?

4

Bahasa Indonesia yang Baik dan yang Benar

Kemaren tiba-tiba ada obrolan dari abangku :

Yang benar itu :

“Pemeran Pembantu” atau “Peran Pembantu” atau “Pemeran Bantu”

Maksudnya kalo dalam film itu “Supporting Roles” itu kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia arti yg benar itu yang mana?

Kalo “Pemeran Pembantu” = orang yang memerankan pembantu
atau… “Peran Pembantu” = peran sebagai pembantu
kalo “Pemeran Bantu” jadi aneh ya kedengarannya? karena org terbiasa dengan kata “Pemeran Pembantu”

Heheheh… ga penting banget ya? šŸ˜›

2

Blog Disini, Blog Disitu…

Dulunya mulai nge-blog di friendster. Tapi yach gitu, tampilan di blog di fs itu ga ‘cantik’.

Pengen mindahin tulisan gimana caranya ya? Pengen ngelanjutin disini, tapi tetap ngerasa attached dgn blog yg di FS. Pengen nulis yg bahasa Indo disini dan Bahasa Inggris disana.

Akibatnya ada 2 blog deh. Jadi agak bingung sebenarnya mau “seriusin” yg mana.Ā  Ya itu tadi, yg di fs lebih banyak yg ngebaca, yg di wordpress dikit aza (mungkin cuma 4 orang yg ngunjungin). ga tau deh kenapa.

Aku ngerasa sih tulisanku yg di wordpress “garing”, ga ada yg seru. Kalo yg blog yg di FS mungkin lebih seru karena isinya mungkin lebih emosional, somehow kok pembaca2 selalu lebih tertarik untuk komentari isi blogku yang negatif dan menangis2 hehehehhe…..

Hm, berharap…. berharap…. blog di FS featurenya lebih bagus, soon.

5

Satay World and Peanut Sauce.

Baru setelah tinggal di Amrik selama 4 tahun (tanpa pernah pulang sama sekali), Aku menyadari mengapa Indonesia dijajah bangsa asing selama lebih dari 350 tahun (hahaha ;)…). Kalo dulu belajar dari buku2 Sejarah dan IPS, penjajah kita itu (30% nenek moyangku) menjajah kita karena rempah-rempahnya. No wonder! setelah 4 tahun jauh dari Indo, aku bisa merasakan betapa memang masakan khas Indo itu kaya denganĀ citarasa sangat wah. Ternyata hal itu yang dicari oleh si penjajah! Walau di sono ada juga resto Indo dan asia tenggara lainnya, tapi rasanya tetep aza kurang (mungkin kurang debu jalanan dan keringat si abang-abang yang masaknyaĀ ga sama asinĀ hihihih….)

Kalo bangsa asing, terutama bule-bule, mereka masaknya sangat simple banget. Entah itu cuma di-panggang aza atau di goreng. Bahkan tekhnik pengukusan jarang mereka gunakan (makanya kalo ngeliat pepes atau dimsum, mereka udah gimana gitu heheheh…). Aku ingat ada teman bule yg sebegitu bangganya sudah bisa membuat Rosemary chicken (ayam panggang yang di-sprinkle daun-daun rosemary yg harum), karena bagi mereka, mampuĀ memanggang dengan kematangan yang tepat itu sudah jago banget. Padahal mereka ga tau kalo di Indo tuh ada yang namanya Ayam Bumbu Rujak, Ayam Tulang Lunak, Ayam Taliwang, Ayam Kalasan, Ayam Kuluyuk, Ayam Kodok, Ayam Goreng Kuning, Ayam Garam Asam… ayam… ayam ….wuah pokoknya berbagai macam ayam. Kembali ke Ayam Bumbu Rujak aza mereka akan terpesona!

Ga bakalan habis kalo aku mau ngebahas makanan disini hehehehe…

Back to the topic, yang paling khas menurutku adalah Peanut Saucenya Indo, alias Bumbu Kacang atau Bumbunya Sate dan pecel. Thailand dan Vietnam jg punya peanut sauce, tapi yach kalah sih dengan Peanut saucenya kita yang kental, gurih dan bertekstur (Bener ga?). Apalagi peanut saucenya bumbu sate, wah si “satay” atau si “kebab” Indo ini emang rajanya deh. Lagi-lagi, kebab di negara asing hanyalah daging yang ditusuk dan dipanggang dan disprinkle lada atau garam dan sedikit rempah-rempah lainnya (parsley misalnya)….

Sebenarnya ga adil untuk cuma membahas peanut sauce disini, tapi untuk membahas curry-nya Indonesia alias rendang, dilain waktu aja ya šŸ™‚

See, our country is actually good at something lho…. cuma gimana caranya aza dipromosikan dengan aktif sepertiĀ  negeri jiran yang selalu aja mempromosikan makanan dan pariwisata mereka yang jauh dari enak dan indahnya dari kita! Kita punya 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil dengan berbagai macam suku, ga akan habis deh dipromosiin.

Sebagai contoh sate aza lagi dech. Ada sate bumbu kacang, ada sate bumbu kecap, ada sate saus padang.

Nah kalau di Jakarta, tempat makan sate yang paling sering aku kunjungi adalah di Jl. Sambas, Jakarta Selatan alias Sate Sambas, yang kedua adalah Sate Santa di Jalan Santa, Jakarta Selatan lagi (ayo posting daerah2 lainnya buat info-info sate enak). Tapi kalo di kampung halamanku, satenya beda lagi. Ada kuahnya dan dikasih mentimun. Biasanya aku beli disebelah rumah, sama abang langganan kalo ga di jalan P. Antasari, Pontianak. Kayak gini nich kira-kira:

img218.jpg

Duh, jadi pengen chillin` sambil makan sate sore-sore deh……

0

Karena Tuhan Adalah Yang Maha Segalanya…

“Saya tidak pernah mempertanyakan apa yang Tuhan lakukan atau tidak lakukan ketika saya menjadi seorang tahanan di Auschwitz.

Meskipun, tentu saja, saya mengerti tahanan yang lain melakukannya…

Saya tidak menjadi kurang religius atau lebih religius karena apa yang dilakukan oleh Nazi pada kami; dan saya percaya bahwa kepercayaan saya pada Tuhan tidak dirongrong samasekali.

Saya tidak pernah mengaitkan malapetaka yang menimpa kami dengan Tuhan, menyalahkan Dia atau menjadi kurang percaya, atau bahkan tidak percaya samasekali pada Tuhan karena Dia tidak datang menolong kami.

Tuhan tidak berutang seperti itu atau utang lainnya kepada kami.

Kami berutang kehidupan kepadaNya.

Jika seseorang percaya bahwa Tuhan bertanggung jawab atas kematian enam juta orang karena Dia tidak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka, ia harus mengubah pikirannya.

Kita berhutang kehidupan kepada Tuhan, karena beberapa tahun yang sudah kita jalani dan kita memiliki tugas untuk menyembah Dia dan melakukan perintahNya.

Itulah alasan mengapa kita dibawah bumi ini, ….

untuk melayani uhan dan menerima tawaran Tuhan.”

(by Brener, taken from “The Faith and Doubt of Holocaust Survivors)

…. karena Tuhan Adalah Yang maha Segalanya….

Mengapa pernah kita ragu…..

3

The King of Fruit All the way!

I have two favorite fruits of all time. Well, sebenarnya aku suka semua jenis buah-buahan, kecuali yang type benyek2 seperti pepaya (but still i eat it). Intinya aku adalah pemakan segala šŸ˜€ (=rakus).

Back to my favorite fruits, adalah… Durian dan Rambutan. Dynamic Duo yang tidak dapat terpisahkan, kadang2 musimnya bersamaan, kadang musimnya saling melengkapi.

Waktu pulang ke kampung halaman, bulan Januari lalu menghadiri pernikahan sahabat, tentu aza aku ga bakal ngelewatin untuk pesta pora makan durian!

It would be crazy not to! It was all over the street!

yang paling seru adalah jongkok rame2 di tepi jalannya dgn tangan belepotan trus diakhiri dengan ritual minum air garam langsung dari kulitnya (dipercaya bisa menghilangkan bau dan panas dalam :D). Too bad, at that moment I was in a dress after a wedding rehearsal dinner, jadi acara jongkok2nya diskip, dan aku ga bisa makan terlalu banyak karena masih under medication (bisa2 semaput….!hihohoho).

duren-ptk.jpgĀ 

Durian dari daerahku punya citarasa yang khas, dengan ketebalan isi yg tipis, sedikit mengandung “alkohol”, basah namun manis. Tapi kalo mau yg sama dengan citarasa durian bangkok (tebel, kering dan manis) ada juga sih, tapi sizenya lebih kecil aja. (It was a city of durian’s haven!). Kalo mau yg lebih exotic, ada lagi yang namanya Durian Tempoyak, … sedikit di fermentasi sampai isinya berwarna merah-orange dan rasanya lebih alchoholic lagi…..

I remember, My Dad is the expert of choosing durian. Jagoan dech pokoknya, pake teknik2. Duriannya dikocok2, dicium2, diinjek2, diajak ngomong (hehehee). Tapi memang, durian pilihan my Dad always tasty dan manis. I wish I got his talent, atau paling ga Beliau sempat ngajarin sedikit ilmunya ini.

Went to China, also, last February. At the corner of the hospital, ada penjual buah-buahan. Lagi-lagi beli durian! Durian Bangkok (kata penjualnya), sehari sebelum my 3rd surgery I bought durian! sebijinya sekitar 10 RMB atau belasan ribu rupiah (malah jauh lebih murah dari kalo beli di Jakarta)…. and My Mom (menyadari bahwa sifat pemakan segalaku turun dari dirinya, malah mendukung niatku untuk membeli duriannya!…hahahah)

0212_155736.jpg

There was my Mom and I, bawa pulang durian yang udah dibuka, dikupas oleh penjualnya, trus dimasukin ke kotak lalu dibawa pulang ke hospital! Kebayang ga baunya?…. untung waktu itu Guangzhou sedang dingin2nya, jadi agak seperti kulkas dan baunya ga parah-parah banget deh menyebar kemana-mana… (alesan banget ya)

Yang jelas komentar orang2 Indo lain, ketika masuk ke kamarku, sama “Kok bau duren sich? Kok udah sakit masih makan duren sich! ga boleh lho!!!”

Aku dan mama cuma bisa senyam senyum, “kan cuma dikit aza….”

Hail the King of Fruit!